الفرقة الناجية هي التي تلتزم منهاج رسول الله صلى الله عليه و سلم في حياته، و منهاج أصحابه من بعده
“Golongan yang selamat adalah golongan yang setia mengikuti manhaj (jalan) Rasulullah shalallahu shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya, serta manhaj para shahabat sesudahnya.”
Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada RasulNya, yang beliau jelaskan kepada para shahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya,
تركتُ فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي، و لن يتفرقا حتى يردا عليّ الحوض. (صححه الألباني في الجامع)
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam Kitab Shahihul Jami’)
Kedua,
الفرقة الناجية تعود إلى كلام الله و رسوله حين التنازع و الاختلاف
“Golongan yang selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya di saat terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka.”
Sebagai realisasi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’: 65)
Ketiga,
الفرقة الناجية لا تُقدم كلام أحد على كلام الله و رسوله
“Golongan yang selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya.”
Realisasi dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hujurat: 1)
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,
أراهم سيهلكون ! أقول : قال النبي صلى الله عليه و سلم ، و يقولون : قال أبو بكر و عمر(رواه أحمد و غيره، و صححه أحمد شاكر)
“Aku mengira mereka akan binasa! Aku mengatakan, ‘Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sedang kalian mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan selainnya, dan di-shahih-kan Ahmad Syakir)
Keempat,
الفرقة الناجية تعتبر التوحيد
“Golongan yang selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.”
Mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beribadah, berdoa, dan memohon pertolongan -baik dalam masa sulit maupun lapang-, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala symbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Kelima,
الفرقة الناجية يحيون سُنن الرسول صلى الله علسه و سلم في عبادتهم و سلوكهم و حياتهم
“Golongan yang selamat senang dengan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.”
Oleh karena itu mereka menjadi orang-orang yang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
إن الاسلام بدأ غريبا و سيعود غريبا كما بدأ ، فطوبى للغرباء. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaanya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan,
فطوبى للغرباء, الذين يصلحون إذا فسد الناس
“Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih.”)
Keenam,
الفرقة الناجية لا تتعصب إلا لكلام الله و كلام رسوله المعصوم الذي لا ينطق عن الهوى
“Golongan yang selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.”
Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam,
كلّ بني آدم خطاء و خير الخطائين التوابون
“Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)
Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak seorang pun sesudah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”
Ketujuh,
الفرقة الناجية هم أهل الحديث
“Golongan yang selamat adalah para ahli hadits.”
Tentang mereka, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تزال طائفة من أمتي ظاهرين على الحق ، لا يضرهم من خذلهم حتى يأتي أمر الله. (رواه مسلم)
“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
Seorang penyair berkata,
أهل الحديث همُ أهل النبيِّ و إن
لم يصحبوا نفسه أنفاسه صَحِبوا
“Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya.”
Kedelapan,
الفرقة الناجية تحترم الأئمة المجتهدين ، ولا تتعصب لواحد منهم
“Golongan yang selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.”
Golongan yang selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.
Kesembilan,
الفرقة الناجية تأمر بالمعروف، و تنهى عن المنكر
“Golongan yang selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Mereka melarang segala jalan bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para shahabatnya.
Kesepuluh,
الفرقة الناجية تدعو المسلمين أن يكونوا من المتمسكين بسنة الرسول صلى الله عليه و سلم و أصحابه
“Golongan yang selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya.”
Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk surga atas anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan syafa’at Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam -dengan izin Allah-.
Kesebelas,
الفرقة الناجية تنكر القوانين الوضعية التي هي من وَضع البشر
“Golongan yang selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia.”
Sebab undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Golongan yang selamat mengajak manusia berhukuk kepada Kitabullah yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang masa.
Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundurnya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

